//
Artikel

Silahkan baca artikel-artikel dibawah ini, semoga bermanfaat!

LOGO

Diskusi

2 thoughts on “Artikel

  1. MAKNA KEBEBASAN PERS DALAM BINGKAI KODE ETIK JURNALISTIK
    Abstrak
    (Penulis : Y. Bambang Triyono Widyaiswara Madya Puslitbangdiklat LPP RRI)
    Wartawan atau jurnalis adalah anggota sebuah organisasi profesi. Dalam menjalankan profesinya, jurnalis dituntut memahami, menghayati, dan menjalankan pedoman moral yang tercantum dalam Kode Etik. Dalam menjalankan sebuah profesi, dituntut adanya keahlian (skill) yang mendukung profesi tersebut. Keahlian dapat diperoleh dari pelatihan dan pendidikan, maupun pengalaman lapangan. Pasal 8 ayat 1-d Peraturan Dasar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengatur tentang keahlian yang mensyaratkan adanya pendidikan formal bagi setiap anggota PWI. Tuntutan lain yang dipersyaratkan adalah adanya ‘panggilan’ jiwa, kepatuhan terhadap Kode Etik, hukum, etika social, dan komitmen untuk menegakkan keadilan. ’Harus ada keterpanggilan untuk ikut mewujudkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara agar lebih baik dan benar. Adanya rasa tanggungjawab bagi setiap insan pers juga suatu keharusan. Setidak-tidaknya tanggungjawab kepada hati nurani.
    Kata kunci: Kode etik, profesi, jurnalis, kebebasan, keadilan.
    1. Pendahuluan
    Ada banyak profesi baik di organisasi pemerintahan maupun swasta. Contoh konkrit dari profesi, misalnya advokat, notaris, dokter, dan lain lain. Tidak berbeda dengan kewartawanan yang megandung unsur pers, jurnalis, reporter adalah juga profesi. Dalam menjalankan sebuah profesi, seseorang terikat akan adanya syarat-syarat tertentu yang harus di penuhi, yakni keterpanggilan (jiwa), memiliki keahlian, dan adanya kebebasan untuk menjalankan profesinya. Tanggung jawab profesi akan sangat terikat dengan adanya kode etik yang disepakati oleh organisasi. Tanggungjawab wartawan (jurnalis, reporter) terikat pada Kode Etik Jurnalistik yang sebenarnya juga sebuah misi yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Pasca reformasi, ada semacam ‘kebebasan’ pers yang seakan-akan segala peristiwa dapat di beritakan tanpa menghiraukan dampaknya. Padahal sesuai Pasal 4 UU No.40/1999-UU tentang pers, kebebasan tersebut sudah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan bersama, bukan bebas sebebas-bebasnya tanpa memperhitungkan dampaknya.
    2. Keahlian profesi
    Dalam menjalankan sebuah profesi, dituntut adanya keahlian (skill) yang mendukung profesi tersebut. Keahlian dapat diperoleh dari pelatihan dan pendidikan, maupun pengalaman lapangan. Pasal 8 ayat 1-d Peraturan Dasar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengatur tentang keahlian yang mensyaratkan adanya pendidikan formal bagi setiap anggota PWI. Pernah ada wacana bahwa seorang wartawan paling tidak memiliki pendidikan formal D3/S1, namun karena berbagai pertimbangan, diantaranya wartawan senior dengan jam terbang tinggi, sekalipun pendidikannya hanya setingkat SLTA, masih bisa diterima sebagai anggota.
    Elemen yang tidak kalah penting dalam menjalankan sebuah profesi, dalam hal ini wartawan/jurnalis adalah keterpanggilan jiwa. Kalau tidak merasa ‘terpanggil’ warwatan tidak akan mempunyai idealism. Contoh idealism keterpanggilan adalah melihat kondisi masyarakat yang tidak menentu, penuh dengan ketidakadilan, seorang jurnalis merasa terpanggil untuk mengubah ketidakadilan menjadi berkeadilan, menegakkan demokrasi, menghormati HAM, melakukan control social melalui tulisan-tulisan dan laporan-laporan yang di publikasikan. Soetjipto dalam artikel di Buku Putih PWI Jawa Tengah 2002:14, menyatakan :’Harus ada keterpanggilan untuk ikut mewujudkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara agar lebih baik dan benar. Adanya rasa tanggungjawab bagi setiap insan pers juga suatu keharusan. Setidak-tidaknya tanggungjawab kepada hati nurani.
    3. Kode Etik
    Kode Etik adalah pedoman moral bagi orang-orang dalam organisasi untuk menjalankan profesinya. Didalamnya, ada rambu-rambu yang mengatur mana yang boleh dijalankan dan mana yang harus dihindari. PWI memiliki kode etik sebagai pedoman bagi anggotanya dalam menjalankan profesi, yakni Kode Etik Jurnalistik Persatuan Wartawan Indonesia. Setiap anggota wajib mengetahui, memahami, menghayati, dan mematuhinya. Dalam Kode Etik, tercantum petunjuk untuk menjaga harkat dan martabat profesi, menjaga mutu profesi sekaligus memelihara kepercayaan masyarakat terhadap profesi kewartawanan. Pengawasan terhadap pelaksanaaan Kode Etik oleh kalangan anggota organisasi dilakukan oleh sebuah perangkatan dari organisasi itu sendiri, yakni Dewan Kehormatan PWI. Apabila ada pelanggaran terhadap Kode Etik, Dewan Kehormatan PWI berhak memberikan sanksi.
    4. Hak Jawab
    Dalam sebuah peristiwa, tidak mustahil muncul perselisihan antara narasumber dan jurnalis/media dalam pemberitaannya. Apabila seorang narasumber merasa dirugikan dengan adanya pemberitaan, nara sumber memilik hak jawab. Hak jawab adalah hak masyarakat atau siapapun untuk meluruskan, mejelaskan, menanggapi atau membantah suatu berita yang dianggap tidak benar. Dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ) PWI, hak jawab tersebut sudah diatur dan UU Pers Pasal 5 Ayat 2 juga mengamanatkan Pers wajib melayani hak jawab.
    Pelanggaran terhadap ketentuan hak jawab ada ancaman pidana denda (Pasal 18 Ayat 2). Tidak hanya menyangkut hak jawab, namun juga dalam aspek pengawasan. Pengawasan sesungguhnya tidak hanya dilakukan oleh Dewan Kehormatan (PWI), tetapi juga oleh Dewan Pers (Pasal 15 UU Pers), bahkan masyarakat luas (Pasal 17 Ayat 2). Masyarakat luas memilik hak untuk memantau dan melaporkan apabila terjadi pelanggaran hokum atau etika oleh pers. Pengawasan juga dapat dilakukan oleh lembaga-lembaga lain, LSM, misalnya Media Watch. Sekarang jelas bahwa, dalam hal etika profesi, yang dulunya bersifat individu dan otonom, yang sanksinya hanya bersifat moral, kini bisa menjadi sanksi hukum.
    5. Fleksibilitas Kode Etik
    Kode Etik, sekalipun sebagai pedoman moral dalam menjalankan sebuah profesi, namun itu bukanlah kitab suci yang tidak bisa diubah. Kode Etika dapat diubah sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan. Bagaimana caranya? Perubahan Kode Etik dapat dilakukan melalui proses dalam kongres organisasi. Pasca reformasi 1998, dengan adanya liberalisasi dunia pers dengan dileluarkannya lima peraturan bidang pers oleh pemerintah tahun 1998, PWI bukan menjadi satu-satunya organisasi kewartawanan. Wartawan diberi kebebasan untuk memilih bergabung dengan organisasi kewartawanan lainya. Ada sejumlah organisasi kewartawanan lainnya, misalnya Aliansi Jurnalis Indonesia, yang masing masing memilki kode etik yang disusun dalam kongres sebagai pedoman dalam menjalankan tugasnya.
    6. Komitmen terhadap Kode Etik
    Kepatuhan terhadap etika profesi merupakan hal yang sangat penting bagi segenap insane pers. Sering disaksikan adanya fenomena jurnalisme anarki, jurnalisme adu domba, dan sejenisnya muncul akibat dari tidak dipatuhinya/diabaikannya kode etik. Bisa dibayangkan kekacauan apa yang akan terjadi apabila ada kesewenang-wenangan pers, artinya kalau pers tidak dikontrol dan diperingatkan. Kebebasan pers yang kini terbuka lebar sesungguhnya bukan semata-mata milik insan pers, namun milik segenap masyarakat/warga negara. Kebebasan pers bukan merupakan hadiah yang datang secara tiba-tiba, namun diperlukan perjuangan panjang. Kebebasan pers menjadi faktor penting untuk memperjuangkan hak hak rakyat, termasuk hak memperoleh informasi yang benar dan obyektif. Oleh sebab itu, kebebasan pers harus dipertahankan dan dijaga agar insan pers tetap berada dalam posisi yang tepat sesuai dengan peranan, tugas dan fungsinya. Kebebasan pers tidak boleh disalahangunakan untuk kepentingan kalangan tertentu.
    7. Jurnalis Tidak Kebal Hukum
    Selain harus patuh terhadap etika profesi (Kode Etik), jurnalis/wartawan harus hormat dan patuh terhadap hukum. Dengan Kode Etik, dalam menjalankan profesinya jurnalis dituntut mengikuti kata hati nuraninya. Dengan menghormati hukum, wartawan akan mengetahui hak dan kewajiban diri sendiri dan orang lain. Dengan profesionalisme yang tinggi, wartawan akan memiliki komitmen yang tinggi pula terhadap mutu pekerjaannya. Kode etik, hukum, dan profesionalisme menjadi pilar penting bagi kinerja insan pers. Menjunjung tinggi hakat dan marabat manusia sebagaimana diamanatkan dalam undang undang dank ode etik merupakan suatu keharusan. (1,109)
    y.bambang triyono: widyaiswara puslitbangdiklat lpp rri & anggota pwi jawa tengah
    Referensi
    Buku Putih PWI Jateng.2002. Memahami dan Memaknai Kebebasan Pers. Semarang:PT.Masscom Graphy
    Kode Etik Jurnalsitik (KEJ) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) (pwi.or.id/index.php/uu-kej) (22 Okt.2013).
    Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers (pwi.or.id/index.php/uu-kej) (22 Okt.2013).

    Posted by Asep Sugiantoro (@sugiantoro) | 6 Desember 2013, 10:04
  2. Setting laptop menjadi hotspot Wifi dengan modem USB:

    1. Buka Open Network and Sharing Center, caranya klik start > control panel > Network and Sharing Center. Atau bisa juga klik kanan pada icon Connection di kanan bawah layar. Kemudian klik Open Network and Sharing Center.

    2. Pilih > Setup a New Connection or Network.

    3. Pilih > Set Up a Wireless ad Hoc (Computer-to-Computer) Network, atau pada > manually conect to a wireless network ,lalu klik > Next.

    4. Silakan isi data
    Network Name : bebas terserah anda.

    Security Type : pilih No Authentication, atau bisa juga menggunakan password untuk keamanan dari pencurian sinyal dengan pilih WPA2-Personal.

    Security Key : isi bebas, jika orang lain ingin bergabung dengan hotspot anda, maka harus isi password yang telah anda buat.

    Beri tanda (check) pada > Save This Network.

    5. Setting Hotspot selesai , lalu klik Connect untuk mengunakan Wifi anda.
    Silakan dicoba Wifi anda dengan laptop lain atau Handphone yang sudah support wifi.

    Jika ada masalah koneksi, coba cek setting dengan aturan seperti berikut:

    ~ Menuju bagian network connections anda, (klik start > settings > network connections)

    ~ Lalu klik kanan pada nama modem yang anda gunakan, pilih > properties, pilih tab > Sharing , lalu centang (check) Allow other Network User to Connect Through This Computer’s Internet Connection.
    Semoga berhasil

    Posted by Asep Sugiantoro | 3 Agustus 2014, 19:50

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

140 karakter

Desember 2016
S S R K J S M
« Okt    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Office Weblog

Tarik mang…..!!

[zippyshare url=http://www33.zippyshare.com/v/76376801/file.html]
%d blogger menyukai ini: